Selasa, 02 Februari 2016

John 6

kadang John memilih untuk tidak melihat
memilih untuk tidak mendengar
bukan karena tidak peduli
tapi karena ia sangat peduli -John's

John 5

engkau terlalu naif John
tidakkah kau sadar, ribuan topeng berserakan dihadapanmu
pilihlah satu, dan pakai di wajahmu
setelah itu kau akan tahu
permen didalam toplesmu, tidak selalu manis -John's

John 4

"gelasku belum penuh. bagaimana dengan gelasmu John?"
"aku tidak punya gelas"
"lalu bagaimana caranya kau menampung air yang jatuh untuk kau minum?"
"Tuhan menciptakan sungai untukku minum, Tuhan menciptakan danau untukku minum, dan Tuhan menciptakan lautan untuk menampung air yang tak aku minum" -John's

John 3

kau kenapa John?
tak biasanya kau seperti ini?
aku kecewa, aku kecewa, aku kecewa
kepada siapa John?
kepadaku? kepada orang lain?
tidak, aku kecewa pada diriku, karena terlalu banyak hal yang aku sesalkan -John's

John 2

John, kau bilang kau organisme yang berdiri sendiri? apakah kau benar-benar sendiri?
tentu tidak, itulah batasan hidupku
aku hidup untukku sendiri, karena itu aku berjuang untukku sendiri
karena mereka yang lain memiliki hidup mereka sendiri
aku punya banyak teman, sangat banyak hinggap aku lupa
tapi..
aku hanya punya satu sahabat, hanya satu
dia sekarang jauh, mengejar mimpinya
dan aku disini mengejar mimpiku, sendiri -John's

john 1

John, apakah kau memiliki mimpi?
tentu, aku memimpikan aku berbaring diatas gumpalan awan kapas
bukan mimpi seperti itu John
kenapa? apakah mimpiku salah?
tidak John, tapi mengapa kau bermimpi seperti itu? tidakkah itu terlalu mustahil?
kau bilang aku masih berpikiran seperti anak kecil, sehingga kau anggap aku berpikiran sempit. tapi lihatlah, kau lebih sempit dari ruangan sempit yang paling sempit
tidakkah kau bisa memimpikan mimpiku, didalam mimpiku, aku bisa melihat dunia,
dunia dibawah tidak indah kawan, itulah mengapa aku melihat ke atas, bukan pada semesta
melainkan diatas semesta, setelah kehidupan. aku memimpikan aku dan keluargaku beserta sahabat-sahabatku bermain di surga-Nya, indah
dan juga aku membawa serta senyumku -John's

Senin, 18 Januari 2016

TARGET!

Assalamualaikum
Selamat malam

Hari ini di pertengahan Januari, ketika adzan magrib dikumandangkan, hpku berbunyi
Mas dedi – kakak lelaki tertuaku – menelepon, sejenak terdiam..dia menanyakan kabarku. Lebih tepatnya kabar skripsiku, setengah tahun sudah kami tak bertemu, setengah tahun pula skripsiku berjalan. Satu tahun aku nganggur. Ada progress, tapi lamban mas.
“Jangan malas nduk”
“mama bilang ada yang kamu tutup-tutupi ya..diomongin yang baik, biar nggak salah paham. Kasihan mama, tadi mama nelfon mas, cerita masalah kamu, masalah skripsimu”
“kamu sering main ya..jangan sering main, fokus sama skripsimu, mas pulang februari besok”
“kamu bilang wisuda katanya mau wisuda februari, ya mas minta cuti bulan itu, mas kangen, pengen pulang”
“kamu harus punya target! Kalau kamu target lulus bulan februari, ya kejar targetmu. Bukan saatnya lagi buat main-main!”
“inget, restu orang tua itu restunya Allah, kamu nggak bakalan bisa apa-apa tanpa doa dari orangtua nduk”
“lihat mas, memang dulu mas ngelamak sama orang tua, kabur-kaburan dari rumah..tapi mas sadar, ketika dulu mas banting tulang buat nyari uang, tapi tetep hasil nggak seberapa, lalu mas sadar kesalahan mas, dan mulai memperbaiki, rejeki mas langsung ngalir, mas sekarang dapet promosi nduk”
----------------------------------------
Jujur ini pertama kalinya, mas nasehati aku seperti ini, akhirnya sosok kakakku kembali…
Bayangan wajah mama sama bapak bergantian memenuhi hati dan otakku.
Target lulus februari depan bukan hanya sekedar target, tapi sudah tertanam disanubari. Semoga Tuhan merestui.
“nurut sama orang tua, semua gerbang pasti terbuka”
Kering air mata…
Mak…tahun ini, bulan depan..anakmu bakal lulus mak
Tahun ini, aku janji mak, aku akan berusaha..Semoga Tuhan merestui, toga itu akan terpasang dikepala.

Gelar itu akan tersemat dibelakang nama. Aku akan buat mak bangga. Aku sayang mak….

Kamis, 07 Januari 2016

pemeran utama

Assalamualaikum
Aku bersyukur kita bisa berjumpa kembali
Wahai dunia yang (masih) tidak nyata..

Otakku menari – nari..mencari sesuatu yang aku sendiripun tak tahu.
Aku hanya ingin bercerita kepadamu, kamu yang merasa hidupmu tak berarti apa-apa.
Kamu yang hanya menjadi peran pembantu, bahkan dihidupmu sendiri.
Hidup ini bagiku, bagai sebuah kumpulan kisah yang memiliki banyak judul.
Namamu adalah judul bagi kisahmu
Dan kamu (harusnya) jadi pemeran utamanya. Dengan Tuhan sebagai sutradara sekaligus penulis skenarionya. Aku yakin, Tuhan menjadikanku sebagai pemeran utama di hidupku, dikisahku..begitu pula kamu.
Tunggu, aku tak bermaksud memaksakan otaku padamu. Ini hanya sudut pandangku.
Aku tak ingin kunci bahagiaku aku titipkan pada manusia. Pun sama denganmu, aku tak ingin bahagiamu tergantung manusia.
Aku juga masih berproses, meyakini bahwa hidup ini hanya antara aku dan Tuhanku.
Yang lain? Hanya pemeran pendukung. Seorang pemeran pendukung tak boleh keluar dari naskah. Improvisasi bisa saja terjadi, tapi hanya bila sutradara menghendaki.



multirasa

Kamis, 7 Januari 2016
Assalamualaikum.
Selamat malam dunia..

Hari ini sejak kemarin, aku mulai kembali rutinitasku yang bebrapa bulan ini aku tinggalkan, yakni begadang. Meski mata sudah tak mampu untuk terbuka tapi jemari masih saja tak memiliki keinginan untuk berhenti menari diatas tombol – tombol. Otak juga masih mampu berpikir, menyelesaikan tugas negara katanya..
Bukan tentang ‘negara’ yang ingin aku ceritakan mala mini, tapi tentang senja..
Sore tadi, aku tak sengaja bertemu dengannya, tenggelam manis di ufuk barat. Tak biasanya aku melewati jalanan ini, aku memilih jalan memutar yang lebih jauh dari biasanya, namun justru inilah awal perjumpaanku dengannya..senja..jingga..tak henti aku melihatnya, mungkin ini salah satu kelebihanku dibanding sebagian lainnya, manusia multi tasker meski aku tak melihat jalanan, beruntung indra keenamku masih mampu mengendalikan.
Di ufuk barat selain surya yang mulai kembali ke peraduan, aku juga melihat awan yang membiaskan warna senja, gumpalan awan kapas. Seketika aku masuk ke dunia hayalanku. Ini juga salah satu dari sekian kelebihan yang tak pernah aku sadari dari dulu – semua hal yang tak biasa didiriku, aku anggap itu kelebihan, meski kadang sedikit dipaksakan – yakni beralih dari dunia nyata kedunia hayalan. Aku membayangkan diriku tidur diantara awan, memandang ke langit dan melihat dunia di bawah. Multi tasker.
Aku membayangkan aku duduk bersamamu senjaku..seseorang yang aku rindukan,
Seseorang yang nantinya akan menemani pergantian hariku menikmati senja..
Tapi siapa? Tak tahulah siapa..cukup Tuhan yang tahu.
Ketika nanti aku bertemu dengannya, aku akan menceritakan kisah ini padanya, bahwa hari ini aku pernah merindunya, menantinya..
--------------------------------
Disini dikotak hitam, salinan otakku. Sebuah alat buatan jepang, tanpa baterai, bergantung pada aliran listrik, tersimpan sebuah folder berisi namamu, dimana kisah hidupmu tersimpan rapi didalamnya. Siapa dia? Aku tak tahu.
Aku tak tahu yang mana…
Kisahmu sungguh membuatku tersentuh. Salah satunya kisah kakak lelaki yang sangat kau kagumi, inspirasi hidupmu. Selanjutnya, ada kisah tentang stasiun singgahmu, haha tak perlulah aku bahas ini. Geli, ternyata kau juga hanya seorang lelaki yang menyimpan perasaan dengan rapi di dalam hati.
Teman terbaikmu, secangkir kopi. Ada juga tempat favoritmu, dan  adik perempuanmu..yang sekilas mirip denganmu tapi tanpa lesung di pipi.
Teringat pertemuan kita yang telah Tuhan rencanakan, indah..tapi hanya aku yang merasakan. Menyesalkah diriku? Tidak..bahkan aku sangat berterima kasih atas pertemuan ini.
Senja..aku menunggumu.
----------------------------------
Kisah lainnya tersimpan di sebuah buku bersampul merah yang tersimpan di bawah meja berantakanku. Namanya memang tak pernah disebut, tapi Tuhan pasti tahu siapa yang aku maksud.
Aku tak bisa mengibaratkannya dengan apapun di dunia ini. Susah dicerna, susah. Susah dibuang, susah.
Disini tertulis puisi pertamaku untuknya, bahkan pertama kali untuk seseorang.
Oh iya, disini aku menyebutnya lilin..yang hanya mampu menyinariku, tak mampu untuk yang lain.
Pertemuan pertamaku dengannya, masih tersimpan rapi di otakku. Disebuah kantin disudut masjid.
Kisah ini istimewa karena lebih sering ku bawa dalam doa. Aku berharap, kisah ini yang nantinya aku temui di ujung perjalanan cintaku. kamu, lilinku.
Selalu ada kisah baru tentangmu yang terlukis di hari – hariku.tak pernah ku berdialog denganmu, karena diri tak mampu menatapmu.ya..mata ini tak mampu jika harus bertemu dengan matamu.. karena aku takut, kau melihat hal yang tak boleh kau ketahui.
Sebenarnya, jauh disini..didalam hati..diri tak berani untuk mencintai. Kau telah berhenti di sebuah stasiun. Entah hanya singgah atau tempat itu memang stasiun terakhirmu.
Lilin..bercahayalah hanya untukku hingga nanti cahayamu mampu membawa kita berdua bersama dsurga…
--------------------
Dengan siapa nanti kita berbagi rasa, kita tak pernah tahu..mungkin dia yang sudah bersama kita sekarang, atau mungkin dengan dia yang tak pernah sekalipun kita bayangkan.
Aku tak pernah berniat untuk memilikimu..untuk selalu dekat denganmu..
Karena nanti Tuhan yang akan mendekatkan kita, di ujung jalan nanti..kita pasti bertemu.
Seseorang yang setiap malam aku rindukan..
Seseorang yang nanti mampu membuatku lebih mencintaiMu..Tuhanku.


fitrah

Assalamualaikum
Selamat pagi menjelang siang
Pagi ini, di tahun yang angkanya telah berubah, 2016.
Tak ada yang special, hanya kali ini ada yang berbeda..
Tak perlulah aku ceritakan apa yang telah terjadi, yang ingin aku sampaikan hanyalah Tuhan telah merencanakan hal indah untukku. Banyak hal terjadi belakangan ini, pernah aku ceritakan pada kalian semesta..pikiranku serasa terseret masuk dalam lubang hitam yang tak berujung, hingga kini aku tak tahu apa pikiran ini sudah kembali pada tubuhnya..karena tubuh masih tak bergerak sesuai pikiran.
Mata masih melihat dunia sebagai bagian yang tak nyata. Otak tak bisa memproses apa yang mata ini lihat. Tidak nyata…

Keraguan masih ada, tapi semua butuh proses..yang aku yakini sekarang..biarlah semua berjalan seperti yang Tuhan rencanakan..aku hanya bisa berusaha, tapi tetap Tuhan yang bercerita..
Aku berterima kasih pada-Nya atas kehidupan kedua ini..rahasia ini tetap hanya aku dan Tuhan yang tahu J terima kasih ya Rahman..ya Rahim..

Tangis masih selalu pecah ketika hati rindu ingin bertemu dengan-Nya, perasaan malu selalu ada pada diri ini, ketika mengingat Rasul, Ia tak pernah menangis untuk dirinya..tapi Ia menangis karena umatnya…Ia merindukan kita..aku..umatnya.

Perasaan cinta ini tak lagi bisa aku bendung, Tuhan tolong aku…
Aku tak ingin menyakitinya..aku menyayanginya..
Tapi hati ini tak sanggup lagi aku kuasai, hanya Engkau yang bisa menolongku..
Sang Pemilik Hati.


dandelion

Assalamualaikum.
Selamat Pagi..

Hari ini, Rabu 6 Januari 2016 pukul 8.10 am
Pagi ini aku awali hari dengan perasaan dan otak yang sama. Setelah waktuku habis semalam untuk bermimpi hingga melewatkan waktu berdialogku dengan Tuhan, aku bangun dengan perasaan yang masih sama dan sedikit penyesalan. “hari ini harus lebih baik dari kemarin!”
------------------------------
Setelah kemarin aku mulai mencari – cari matahari, aku membaca kembali tulisan – tulisannya.
Seorang lelaki yang sejak beberapa tahun terakhir mulai bermain di pikiranku, tak sengaja awalnya..kami bertemu di sebuah acara, singkat cerita .lesung pipit dan rambut gondrongnya berhasil menjebak otak dan hatiku. Dasar wanita.
Cintakah aku padanya? Aku tak tahu, yang jelas perasaan ini tak sama seperti yang aku rasakan pada –seorang yang selalu aku sebut dalam doa- ah sudahlah. Mungkin aku hanya kagum pada matahari, kau tahu kan dandelion kecil tak boleh terlalu dekat dengan matahari, nanti dia bisa kering.


Di salah satu sudut kamarku, aku pernah menulis ketika perasaan iini masih menggebu untuk bertemu kembali dengannya, kertas kecil itu bertuliskan
 “Sabuga, 5 Juli 2018.” 
Yaa aku masih berharap, bisa bertemu dengannya lagi.
Kumbang…aku tahu dari semua tulisanmu kau mengharapkan bunga yang lain, disini dandelion tak pernah mengharap kumbang untuk menghinggapinya, karena dandelion hanya butuh angin untuk bahagia.
Tapi sayang, angin tak menghiraukannya.
Cinta,,,bagaimana kabarmu? Rindu ini masih tersimpan rapi disini.
Puisi ini masih menunggumu untuk disampaikan.
-untuk lelaki yang mengenalkanku pada cinta-