Kamis, 07 Januari 2016

multirasa

Kamis, 7 Januari 2016
Assalamualaikum.
Selamat malam dunia..

Hari ini sejak kemarin, aku mulai kembali rutinitasku yang bebrapa bulan ini aku tinggalkan, yakni begadang. Meski mata sudah tak mampu untuk terbuka tapi jemari masih saja tak memiliki keinginan untuk berhenti menari diatas tombol – tombol. Otak juga masih mampu berpikir, menyelesaikan tugas negara katanya..
Bukan tentang ‘negara’ yang ingin aku ceritakan mala mini, tapi tentang senja..
Sore tadi, aku tak sengaja bertemu dengannya, tenggelam manis di ufuk barat. Tak biasanya aku melewati jalanan ini, aku memilih jalan memutar yang lebih jauh dari biasanya, namun justru inilah awal perjumpaanku dengannya..senja..jingga..tak henti aku melihatnya, mungkin ini salah satu kelebihanku dibanding sebagian lainnya, manusia multi tasker meski aku tak melihat jalanan, beruntung indra keenamku masih mampu mengendalikan.
Di ufuk barat selain surya yang mulai kembali ke peraduan, aku juga melihat awan yang membiaskan warna senja, gumpalan awan kapas. Seketika aku masuk ke dunia hayalanku. Ini juga salah satu dari sekian kelebihan yang tak pernah aku sadari dari dulu – semua hal yang tak biasa didiriku, aku anggap itu kelebihan, meski kadang sedikit dipaksakan – yakni beralih dari dunia nyata kedunia hayalan. Aku membayangkan diriku tidur diantara awan, memandang ke langit dan melihat dunia di bawah. Multi tasker.
Aku membayangkan aku duduk bersamamu senjaku..seseorang yang aku rindukan,
Seseorang yang nantinya akan menemani pergantian hariku menikmati senja..
Tapi siapa? Tak tahulah siapa..cukup Tuhan yang tahu.
Ketika nanti aku bertemu dengannya, aku akan menceritakan kisah ini padanya, bahwa hari ini aku pernah merindunya, menantinya..
--------------------------------
Disini dikotak hitam, salinan otakku. Sebuah alat buatan jepang, tanpa baterai, bergantung pada aliran listrik, tersimpan sebuah folder berisi namamu, dimana kisah hidupmu tersimpan rapi didalamnya. Siapa dia? Aku tak tahu.
Aku tak tahu yang mana…
Kisahmu sungguh membuatku tersentuh. Salah satunya kisah kakak lelaki yang sangat kau kagumi, inspirasi hidupmu. Selanjutnya, ada kisah tentang stasiun singgahmu, haha tak perlulah aku bahas ini. Geli, ternyata kau juga hanya seorang lelaki yang menyimpan perasaan dengan rapi di dalam hati.
Teman terbaikmu, secangkir kopi. Ada juga tempat favoritmu, dan  adik perempuanmu..yang sekilas mirip denganmu tapi tanpa lesung di pipi.
Teringat pertemuan kita yang telah Tuhan rencanakan, indah..tapi hanya aku yang merasakan. Menyesalkah diriku? Tidak..bahkan aku sangat berterima kasih atas pertemuan ini.
Senja..aku menunggumu.
----------------------------------
Kisah lainnya tersimpan di sebuah buku bersampul merah yang tersimpan di bawah meja berantakanku. Namanya memang tak pernah disebut, tapi Tuhan pasti tahu siapa yang aku maksud.
Aku tak bisa mengibaratkannya dengan apapun di dunia ini. Susah dicerna, susah. Susah dibuang, susah.
Disini tertulis puisi pertamaku untuknya, bahkan pertama kali untuk seseorang.
Oh iya, disini aku menyebutnya lilin..yang hanya mampu menyinariku, tak mampu untuk yang lain.
Pertemuan pertamaku dengannya, masih tersimpan rapi di otakku. Disebuah kantin disudut masjid.
Kisah ini istimewa karena lebih sering ku bawa dalam doa. Aku berharap, kisah ini yang nantinya aku temui di ujung perjalanan cintaku. kamu, lilinku.
Selalu ada kisah baru tentangmu yang terlukis di hari – hariku.tak pernah ku berdialog denganmu, karena diri tak mampu menatapmu.ya..mata ini tak mampu jika harus bertemu dengan matamu.. karena aku takut, kau melihat hal yang tak boleh kau ketahui.
Sebenarnya, jauh disini..didalam hati..diri tak berani untuk mencintai. Kau telah berhenti di sebuah stasiun. Entah hanya singgah atau tempat itu memang stasiun terakhirmu.
Lilin..bercahayalah hanya untukku hingga nanti cahayamu mampu membawa kita berdua bersama dsurga…
--------------------
Dengan siapa nanti kita berbagi rasa, kita tak pernah tahu..mungkin dia yang sudah bersama kita sekarang, atau mungkin dengan dia yang tak pernah sekalipun kita bayangkan.
Aku tak pernah berniat untuk memilikimu..untuk selalu dekat denganmu..
Karena nanti Tuhan yang akan mendekatkan kita, di ujung jalan nanti..kita pasti bertemu.
Seseorang yang setiap malam aku rindukan..
Seseorang yang nanti mampu membuatku lebih mencintaiMu..Tuhanku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar