kadang John memilih untuk tidak melihat
memilih untuk tidak mendengar
bukan karena tidak peduli
tapi karena ia sangat peduli -John's
Humairah
penulis amatir.
Selasa, 02 Februari 2016
John 5
engkau terlalu naif John
tidakkah kau sadar, ribuan topeng berserakan dihadapanmu
pilihlah satu, dan pakai di wajahmu
setelah itu kau akan tahu
permen didalam toplesmu, tidak selalu manis -John's
tidakkah kau sadar, ribuan topeng berserakan dihadapanmu
pilihlah satu, dan pakai di wajahmu
setelah itu kau akan tahu
permen didalam toplesmu, tidak selalu manis -John's
John 4
"gelasku belum penuh. bagaimana dengan gelasmu John?"
"aku tidak punya gelas"
"lalu bagaimana caranya kau menampung air yang jatuh untuk kau minum?"
"Tuhan menciptakan sungai untukku minum, Tuhan menciptakan danau untukku minum, dan Tuhan menciptakan lautan untuk menampung air yang tak aku minum" -John's
"aku tidak punya gelas"
"lalu bagaimana caranya kau menampung air yang jatuh untuk kau minum?"
"Tuhan menciptakan sungai untukku minum, Tuhan menciptakan danau untukku minum, dan Tuhan menciptakan lautan untuk menampung air yang tak aku minum" -John's
John 3
kau kenapa John?
tak biasanya kau seperti ini?
aku kecewa, aku kecewa, aku kecewa
kepada siapa John?
kepadaku? kepada orang lain?
tidak, aku kecewa pada diriku, karena terlalu banyak hal yang aku sesalkan -John's
tak biasanya kau seperti ini?
aku kecewa, aku kecewa, aku kecewa
kepada siapa John?
kepadaku? kepada orang lain?
tidak, aku kecewa pada diriku, karena terlalu banyak hal yang aku sesalkan -John's
John 2
John, kau bilang kau organisme yang berdiri sendiri? apakah kau benar-benar sendiri?
tentu tidak, itulah batasan hidupku
aku hidup untukku sendiri, karena itu aku berjuang untukku sendiri
karena mereka yang lain memiliki hidup mereka sendiri
aku punya banyak teman, sangat banyak hinggap aku lupa
tapi..
aku hanya punya satu sahabat, hanya satu
dia sekarang jauh, mengejar mimpinya
dan aku disini mengejar mimpiku, sendiri -John's
tentu tidak, itulah batasan hidupku
aku hidup untukku sendiri, karena itu aku berjuang untukku sendiri
karena mereka yang lain memiliki hidup mereka sendiri
aku punya banyak teman, sangat banyak hinggap aku lupa
tapi..
aku hanya punya satu sahabat, hanya satu
dia sekarang jauh, mengejar mimpinya
dan aku disini mengejar mimpiku, sendiri -John's
john 1
John, apakah kau memiliki mimpi?
tentu, aku memimpikan aku berbaring diatas gumpalan awan kapas
bukan mimpi seperti itu John
kenapa? apakah mimpiku salah?
tidak John, tapi mengapa kau bermimpi seperti itu? tidakkah itu terlalu mustahil?
kau bilang aku masih berpikiran seperti anak kecil, sehingga kau anggap aku berpikiran sempit. tapi lihatlah, kau lebih sempit dari ruangan sempit yang paling sempit
tidakkah kau bisa memimpikan mimpiku, didalam mimpiku, aku bisa melihat dunia,
dunia dibawah tidak indah kawan, itulah mengapa aku melihat ke atas, bukan pada semesta
melainkan diatas semesta, setelah kehidupan. aku memimpikan aku dan keluargaku beserta sahabat-sahabatku bermain di surga-Nya, indah
dan juga aku membawa serta senyumku -John's
tentu, aku memimpikan aku berbaring diatas gumpalan awan kapas
bukan mimpi seperti itu John
kenapa? apakah mimpiku salah?
tidak John, tapi mengapa kau bermimpi seperti itu? tidakkah itu terlalu mustahil?
kau bilang aku masih berpikiran seperti anak kecil, sehingga kau anggap aku berpikiran sempit. tapi lihatlah, kau lebih sempit dari ruangan sempit yang paling sempit
tidakkah kau bisa memimpikan mimpiku, didalam mimpiku, aku bisa melihat dunia,
dunia dibawah tidak indah kawan, itulah mengapa aku melihat ke atas, bukan pada semesta
melainkan diatas semesta, setelah kehidupan. aku memimpikan aku dan keluargaku beserta sahabat-sahabatku bermain di surga-Nya, indah
dan juga aku membawa serta senyumku -John's
Senin, 18 Januari 2016
TARGET!
Assalamualaikum
Selamat malam
Hari ini di pertengahan Januari, ketika adzan magrib
dikumandangkan, hpku berbunyi
Mas dedi – kakak lelaki tertuaku – menelepon, sejenak
terdiam..dia menanyakan kabarku. Lebih tepatnya kabar skripsiku, setengah tahun
sudah kami tak bertemu, setengah tahun pula skripsiku berjalan. Satu tahun aku
nganggur. Ada progress, tapi lamban mas.
“Jangan malas nduk”
“mama bilang ada yang kamu tutup-tutupi ya..diomongin yang
baik, biar nggak salah paham. Kasihan mama, tadi mama nelfon mas, cerita
masalah kamu, masalah skripsimu”
“kamu sering main ya..jangan sering main, fokus sama
skripsimu, mas pulang februari besok”
“kamu bilang wisuda katanya mau wisuda februari, ya mas
minta cuti bulan itu, mas kangen, pengen pulang”
“kamu harus punya target! Kalau kamu target lulus bulan
februari, ya kejar targetmu. Bukan saatnya lagi buat main-main!”
“inget, restu orang tua itu restunya Allah, kamu nggak
bakalan bisa apa-apa tanpa doa dari orangtua nduk”
“lihat mas, memang dulu mas ngelamak sama orang tua,
kabur-kaburan dari rumah..tapi mas sadar, ketika dulu mas banting tulang buat
nyari uang, tapi tetep hasil nggak seberapa, lalu mas sadar kesalahan mas, dan
mulai memperbaiki, rejeki mas langsung ngalir, mas sekarang dapet promosi nduk”
----------------------------------------
Jujur ini pertama kalinya, mas nasehati aku seperti ini,
akhirnya sosok kakakku kembali…
Bayangan wajah mama sama bapak bergantian memenuhi hati dan
otakku.
Target lulus februari depan bukan hanya sekedar target,
tapi sudah tertanam disanubari. Semoga Tuhan merestui.
“nurut sama orang tua, semua gerbang pasti terbuka”
Kering air mata…
Mak…tahun ini, bulan depan..anakmu bakal lulus mak
Tahun ini, aku janji mak, aku akan berusaha..Semoga Tuhan
merestui, toga itu akan terpasang dikepala.
Gelar itu akan tersemat dibelakang nama. Aku akan buat mak
bangga. Aku sayang mak….
Langganan:
Komentar (Atom)